CLICK HERE FOR THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES »

Minggu, 20 Juli 2008

Suami Idaman

وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (الروم21)

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” Ar Rum:21


Standard umum suami idaman emang harusnya udah kita tetapkan sih sekarang.. tapi kita kan punya hak memilih yang bisa kia jadiin pedoman pribadi untuk memilih pasangan hidup.. Mungkin sebelum ana mengutarakan uneg2 soal suami idaman, antunna kudu n harus baca artikel ini dulu ya..

“Suatu ketika Maryam isteri Abu 'Utsman, yang ketika itu sedang berduaan dengan suaminya tersebut, bertanya,"Wahai Abu 'Utsman, perbuatanmu yang manakah yang paling engkau harapkan (pahalanya)?"

Marilah kita perhatikan bersama jawaban dari Abu 'Utsman ini:

Abu 'Utsmanpun menjawab, "Wahai Maryam, ketika aku tumbuh menjadi pemuda yang tampan, yang kemudian keluargaku menginginkanku menikah, tetapi aku menolaknya.

Tiba-tiba seorang wanita datang kepadaku seraya mengatakan, "Wahai Abu 'Utsman, aku mencintaimu dengan cinta yang membuatku tidak bisa tidur dan gelisah. Aku memohon kepadamu demi Allah Yang membolak-balikkan hati dan aku mendekat kepadamu agar engkau sudi menikah denganku."

Kemudian akupun bertanya padanya, "Apakah engkau mempunyai orang tua?"
Ia menjawab, "Ya, seorang penjahit di tempat demikian dan demikian."


Kemudian akupun mendatangi ayahnya agar menikahkannya denganku
Ayahnyapun gembira akan hal itu. Selanjutnya aku menghadirkan para saksi, lalu aku menikah dengannya.

Ketika aku masuk menemui wanita (istriku) tersebut, ternyata aku mendapatinya buta sebelah, pincang, dan rupanya buruk. Maka akupun berucap, "Ya Allah, untuk-Mu segala pujian atas apa yang Engkau tentukan untukku."

Keluargakupun mencelaku atas hal yang terjadi itu, namun aku semakin berbuat baik dan memuliakannya, hingga dia tidak membiarkanku keluar dari sisinya. Hal ini mengakibatkan aku meninggalkan beberapa majelis karena lebih mementingkan kerelaannya dan menjaga hatinya.

Akupun tinggal bersamanya dalam keadaan demikian selama 15 tahun. Dan aku seolah-olah berada di atas bara api di sebagian waktuku. Aku tidak menampakkan sedikitpun dari hal itu kepadanya sampai dia meninggal. Tidak ada sesuatupun yang lebih aku harapkan bagi diriku, dibanding aku memelihara perasaan hatinya terhadapku."


Pertama, Harus Punya Visi

Setiap kaum wanita merindukan suami yang mempunyai visi hidup yang jelas. Bahwa hidup ini diciptakan bukan semata untuk hidup. Melainkan ada tujuan mulia. Dalam pembukaan surah An Nisa’:1 Dalam ayat ini Allah dengan tegas menjelaskan bahwa tujuan hidup berumah tangga adalah untuk bertakwa kepada Allah. Takwa dalam arti bersungguh mentaati-Nya. Apa yang Allah haramkan benar-benar dijauhi. Dan apa yang Allah perintahkan benar ditaati. Dalam masalah pernikahan Nabi saw. bersabda: “Pernikahan adalah separuh agama, maka bertakwalah pada separuh yang tersisa.”

Kedua, Lemah Lembut

Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Ini menunjukkan bahwa tabiat wanita tidak sama dengan tabiat laki-laki. Karena itu Nabi saw. menjelaskan bahwa kalau wanita dipaksa untuk menjadi seperti laki-laki tulung rusuk itu akan patah. Dan patahnya berarti talaknya. Dari sini nampak bahwa kaum wanita mempunyai sifat ingin selalui dilindungi. Bukan diperlakukan secara kasar. Karena itu Allah memerintahkan para suami secara khusus agar menyikapi para istri dengan lemah lembut: Wa’aasyiruuhunna bil ma’ruuf (Dan sikapilah para istri itu dengan perlakuan yang baik) An Nisa: 19. Perhatikan ayat ini menggambarkan bahwa sikap seorang suami yang baik bukan yang bersikap kasar, melainkan yang lembut dan melindungi istri.

Ketiga, G sombong

Sombong adalah sifat setan. Allah melaknat Iblis adalah karena kesombongannya. Abaa wastakbara wakaana minal kaafiriin (Al Baqarah:34). Tidak ada seorang mahlukpun yang berhak sombong, karena kesombongan hanyalah hak priogatif Allah. Allah berfirman dalam hadits Qurdsi: “Kesombongan adalah selendangku, siapa yang menandingi aku, akan aku masukkan neraka.” Wanita adalah mahluk yang lembut. Kesombongan sangat bertentangan dengan kelembutan wanita. Karena itu para istri yang baik tidak suka mempunyai suami sombong.

Keempat, Terbuka

Nabi saw. adalah contoh suami yang baik. Tidak ada dari sikap-sikapnya yang tidak diketahui istrinya. Nabi sangat terbuka kepada istri-istrinya. Bila hendak bepergian dengan salah seorang istrinya, nabi melakukan undian, agar tidak menimbulkan kecemburuan dari yang lain. Bila nabi ingin mendatangi salah seorang istrinya, ia izin terlebih dahulu kepada yang lain. Perhatikan betapa nabi sangat terbuka dalam menyikapi para istri. Tidak seorangpun dari mereka yang merasa didzalimi. Tidak ada seorang dari para istri yang merasa dikesampingkan.

Kelima, Punya Pendirian

Setiap wanita sangat mendambakan seorang suami yang mempunyai pendirian. Bukan suami yang plinplan. Tetapi bukan diktator. Tegas dalam arti punya sikap dan alasan yang jelas dalam mengambil keputusan. Tetapi di saat yang sama ia bermusyawarah, lalu menentukan tindakan yang harus dilakukan dengan penuh keyakinan. Inilah salah satu makna qawwam dalam firman Allah: arrijaalu qawwamuun alan nisaa’ (An Nisa’:34).

Keenam, Jujur

Banyak kejadian para istri tersiksa karena sang suami suka berbohong. Tidak mau jujur atas perbuatannya. Ingat sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh ke tanah. Kebohongan adalah sikap yang paling Allah benci. Bahkan Nabi menganggap kebohongan adalah sikap orang-orang yang tidak beriman. Dalam sebuah hadits Nabi pernah ditanya: hal yakdzibul mukmin (apakah ada seorang mukmin berdusta?) Nabi menjawab: Laa (tidak). Ini menunjukkan bahwa berbuat bohong adalah sikap yang bertentangan dengan iman itu sendiri.

Ketujuh, Tegar

Para istri ingin suami yang tegar, bukan suami yang cengeng. Benar Abu Bakar Ash Shiddiq adalah contoh suami yang selalu menangis. Tetapi ia menangis bukan karena cengeng melainkan karena sentuhan ayat-ayat Al Qur’an. Namun dalam sikap keseharian Abu Bakar jauh dari sikap cengeng. Suami yang cengeng cenderung nampak di depan istri serba tidak meyakinkan. Para istri suka suami yang selalu gagah tetapi tidak sombong. Gagah dalam arti penuh semangat dan tidak kenal lelah.

Kedelapan, Pemberani

Banyak para istri yang tertahan keinginannya karena sikap pengecut suaminya. Banyak para istri yang tersiksa karena suaminya tidak berani menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Nabi saw. terkenal pemberani. Setiap ada pertempuran Nabi selalu dibarisan paling depan. Katika terdengar suara yang menakutkan di kota Madinah, Nabi saw. adalah yang pertama kaluar dan mendatangi suara tersebut. Para Istri suka pada suami yang pemberani. Sebab tantangan hidup sangat menuntut keberanian. Tetapi bukan nekad, melainkan berani dengan penuh pertimbangan yang matang.

Kesembilan, Harus Rajin

Malas telah membuat seseorang tidak produktif. Banyak sumber-sumber rejeki yang tertutup karena kemalasan seorang suami. Malas sering kali membuat rumah tangga menjadi sempit dan terjepit. Para istri sangat tidak suka kepada seorang suami pemalas. Sebab keberadaanya di rumah bukan memecahkan masalah melainkan menambah permasalah.

Kesepuluh, Perhatian Pada Anak

Mendidik anak tidak saja tanggung jawab seorang istri melainkan lebih dari itu tanggung jawab seorang suami. Perhatikan surat Luqman, di sana kita menemukan pesan seorang ayah bernama Luqman, kepada anaknya. Ini menunjukkan bahwa seorang ayah harus menentukan kompas jalan hidup sang anak.

Kini banyak kita saksikan seorang ayah sangat cuek pada anak. Ia beranggapan bahwa mengurus anak adalah pekerjaan istri. Sikap seperti inilah yang sangat tidak disukai para wanita.

Kesebelas, Mengalah

Setiap manusia mempunyai perasaan ingin dihargai pendapatnya. Begitu juga seorang istri. Banyak para istri tersiksa karena sikap suami yang selalu merasa benar sendiri. Karena itu Umar bin Khaththab lebih bersikap diam ketika sang istri berbicara. Suami adalah tempat mencurahkan isi hatinya. Karena itu seorang suami hendaklah selalu lapang dadanya. Daripada curhat sama suami orang lain, Hayo Pilih Mana?? J Tidak ada artinya merasa menang di depan istri. Karena itu sebaik-baik sikap adalah mengalah dan bersikap perhatian dengan penuh kebapakan. Sebab ketika sang istri ngomel ia sangat membutuhkan sikap kebapakan seorang suami. Ada pepetah mengatakan: jadilah air ketika salah satunya menjadi api.

Keduabelas, Keep Contact

Para istri merasa kesepian ketika sang suami pergi atau di luar rumah. Sebaik-baik suami adalah yang selalu mengontak sang istri. Entah denga cara mengirim sms atau menelponnya. Ingat bahwa banyak masalah kecil menjadi besar hanya karena miskomunikasi. Karena itu sering berkomukasi sangat menentukan dalam kebahagiaan rumah tangga.

Kesannya kalo ga dihubungin tuh kayak disepelekan gitu, kayak g dibutuhkan. Para istri sangat suka pada para suami yang selalu mengontak sekalipun hanya sekedar menanyakan apa kabarnya. Sumpah deh!!

Ketigabelas, Harus Rapi dan Harum

Ini penting nih, biasanya kan kalo suami keluar tuh, pasti omongan orang2. “Suami kan yang ngurusin Istri”, Nah lo,, Kalo para lelaki tidak sadar diri untuk merapikan dan membenahi dirinya bagaimana nasib kita2 (para Isteri). Sudah tersinggung denger omongan orang dibilang ga ngurusin suami, ga enak juga dapat suami yang selebor. Hehe..

0 komentar: